Newest Post
// Posted by :Unknown
// On :Senin, 11 Januari 2016
Embargo
Embargo
secara umum adalah pembatasan apa pun dalam perdagangan luar negeri. Dalam
prakteknya, embargo lebih banyak mengacu pada pembatasan ekspor untuk
penjualan ke negara lain tertentu. Tidak seperti tarif, kuota impor, dan hambatan non-tarif lainnya yang melindungi produsen dalam
negeri dari persaingan, embargo dimaksudkan untuk menghukum negara tujuan
ekspor. Embargo strategis mencegah pertukaran barang militer dengan suatu
negara.
Embargo biasanya dilakukan sebagai akibat dari kondisi
politik dan ekonomi antarbangsa yang tidak menguntungkan. Pembatasan yang
dilakukan akan mengisolasi negara yang diembargo dan menciptakan kesulitan bagi
pemerintahnya sehingga memaksa mereka untuk bertindak terhadap masalah yang
mendasari. Karena banyak negara bergantung pada perdagangan global, embargo
adalah alat yang ampuh untuk mempengaruhi suatu negara.
Contoh Kasus Embargo
Ekonomi :
Kasus Embargo Ekonomi
di Iran 1980
Berawal satu tahun
sebelumnya, dari situasi politik dan sosial yang tengah mengalami krisis saat
itu dimana di Teheran khususnya, kekacauan terjadi di seantero kota, termasuk
peristiwa penyanderaan beberapa warga asing di kedutaan besar besar Amerika
Serikat. Kekacauan terjadi karena masyarakat Iran sudah jengah dengan
pemerintahan Shah Reza Pahlevi yang selama ini dipandang terlalu dekat dan
selalu menuruti dikte Amerika Serikat. Revolusi tahun 1979 tersebut dipimpin
oleh Ayatullah Khomeni.
Revolusi tersebut
dianggap sebagai revolusi terbesar ketiga dalam sejarah setelah revolusi
Bolshevik dan Prancis, karena dipandang sangat hebat. Bagaimana sebuah gerakkan
rakyat bisa menumbangkan dinasti monarki yang juga tentu saja didukung penuh
oleh Amerika Serikat selaku rekan dekat Shah Reza. Kemudian muncullah Ayatullah
Khomeni sebagai penguasa baru dan mendeklarasikan Iran sebagai Republik Islam
yang baru.
Disinilah kemarahan
Amerika muncul, mereka menganggap berdirinya Republik Islam Iran sebagai
ancaman yang berpotensi akan mengacaukan hegemon mereka, apalagi rezim yang
tumbang tersebut merupakan sekutu yang pernah dekat.
Setahun paska revolusi
dimulai lah berbagai embargo untuk mengisolasi Iran yang pada akhirnya akan
melemahkan perekonomian Iran bersama rezim barunya. Sampai situasi terakhir,
embargo Iran mencakup embargo persenjataan, militer, investasi, perbankan,
asuransi dan transaksi keuangan lainnya semisal ekspor dan import, juga yang
terakhir tentu saja segala sumber daya energi mereka seperti gas alam, minyak
bumi dan lain-lain.
Tentu saja, berbicara mengenai embargo Iran, akan
sangat terasa seperti pepesan kosong jika hanya berbicara embargo mereka belasan
atau puluhan tahun lalu, tanpa membicarakan embargo Iran sekarang ini.
Isu nuklir Iran memang
sudah lama menjadi buah bibir di kalangan masyarakat internasional. Amerika
Serikat terutama bersikeras agar Iran berhenti membangun proyek instalasi
nuklirnya karena khawatir akan menggunakannya sebagai senjata, meskipun Mahmoud
Ahmadinejad juga tetap mengutarakan bahwa proyek nuklirnya hanya digunakan
sebagai tujuan damai dan sebatas kepentingan sumber energi sehari-hari bagi
rakyatnya.
Namun pihak Amerika Serikat
tetap tidak menerima itu, dan pada awal tahun 2012, Amerika Serikat
mengultimatum Iran dan mengancam akan menjatuhkan sanksi berupa embargo [lagi]
namun kali ini akan lebih ketat karena akan melibatkan banyak negara. Dan
disaat yang hampir bersamaan, Amerika Serikat berhasil mengajak Uni Eropa untuk
ikut mengembargo ekspor minyak dan sumber daya Iran lainnya yang pelaksanaannya
jatuh per 1 Juli 2012.
Selain itu rupanya, agar sanksi terhadap Iran
memberikan efek jera, Uni Eropa berinisiatif untuk membekukan semua aset Bank
Sentral Iran yang ada di Eropa tanpa kecuali. Itu juga termasuk melakukan
penghentian perdagangan emas, perak dan berbagai logam mulia lainnya.
Tentunya tidak cukup
dengan Uni Eropa saja, agar sanksi nya dirasa efektif, Amerika Serikat gencar
mengajak para negara besar Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China dan India
agar turut melakukan embargo minyak Iran. Namun ajakan tersebut bukannya tanpa
hambatan, Keempatnya merupakan negara pengimpor minyak Iran terbesar di Asia.
China setiap hari nya mengimpor sekitar 420.000 barel, India 400.000 barel,
Jepang 315.000 barel sedangkan Korea Selatan 240.000 barel. Meskipun beberapa
pemimpin Jepang dan China telah mengiyakan ajakan Amerika Serikat, namun
sebagai pemimpin berintegritas tinggi, mereka harus lebih mementingkan
kebutuhan rakyatnya, apalagi minyak yang merupakan kebutuhan primer.
Sebagai contoh, Korea
Selatan belum bisa menyetujui secara penuh ajakan sanksi terhadap Iran, karena
tengah mengerjakan sebuah proyek pembangunan pipa penyaluran minyak dari Iran
utara ke Iran selatan yang bertujuan untuk memudahkan pengiriman minyak dari
Iran, sedangkan India sudah jelas menolak mengikuti ajakan Amerika Serikat
karena memiliki hutang nyaris 10 Miliar dollar AS atas pembelian minyak Iran.
Lagipula embargo
terhadap Iran selama puluhan tahun oleh beberapa negara terutama Amerika
Serikat tidak menghantarkan Iran kedalam situasi buruk yang diinginkan mereka
dan sekutunya. Sebaliknya Iran terus tumbuh sebagai salah satu negara mandiri
yang selalu dapat mengembangkan teknologi serta sumber daya yang dimiliki
secara mantap. Malahan, ditengah ancaman sanksi minyak Iran sekarang ini, Iran
bisa leluasa menjual minyaknya ke negara langganan lainnya dengan inovasi
terbaru, semacam potongan harga atau bahkan secara kredit ringan, dan itu akan
semakin menjadikan minyak asal Iran semakin laris. Mungkin dalam jangka pendek,
embargo ini akan berpengaruh, namun tidak dalam jangka panjang beberapa tahun
kedepan.
Refrensi: